Kamis, 30 Oktober 2014

Salam Juang....

Selamat dan Sukses Untuk Arie Reza Nugraha dan Teuku Sri Muchsalmina yang terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur ( HIMA ) dan Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil ( HIMATESIP ) FT Unmuha.

Lanjutkan Tongkat Estapet Organisasi, Kami Ada Bersama mu..


Minggu, 12 Oktober 2014

Mendefinisikan Kembali Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi atau kampus dan mahasiswa selalu menjadi diskursus yang tidak ada habisnya. Bukan saja perguruan tinggi sebagai wahana ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu, perguruan tinggi merupakan basis budaya intelektual kritis progresif dengan kehidupan yang demokratis. Tidak salah kalau dari civitas akademika yang ada di kampus inilah, masyarakat menaruh harapan besar akan keberlangsungan masa depan bangsa. Sejarahpun mencatat tinta emasnya bahwa dari kampuslah pembawa heroisme perubahan itu lahir.
Mendefinisikan Kembali Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka mahasiswa merupakan wahana mencetak generasi-generasi yang menjadi the next leader tomorrow. Dari institusi inilah, sebuah cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara akan terwujud sebagaimana bangsa itu berdiri. Meminjam bahasa Jhon F. Keneddy “Ketika ada sebuah sistem ada yang salah dalam ketatanegaraan, maka lihatlah sistem pendidikanya”. Dari kalimat ini, secara simplisit, menyatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari aspek pendidikanya. Mengingat perguruan tinggi, seperti yang disebutkan di atas yaitu sebagai kawah candradimukanya mahasiswa atau yang dikenal sebagai man of progress idea, ini artinya kampus memainkan peranan penting dalam membangun arah kemajuan kehidupan berbangsa.
Ada beberapa alasan, kenapa Perguruan tinggi atau kampus menjadi pilar atau penentu arah kemajuan bangsa. Pertama, Perguruan tinggi adalah institusi tertinggi jenjang pendidikan atau sebagai tempat melanjutkan studi para mahasiswanya. Dimana di dalamnya terdapat suatu proses interaksi keilmuan sekaligus proses pengembangnya. Kedua, dalam kehidupan sosial, di dalam kampus terdapat interaksi sosial lintas kultur, agama, ras, suku, dan lain sebagainya. Di sinilah kampus atau perguruan tinggi menjadi sebuah miniature kehidupan bngsa yang heterogen sebagai keragaman gambaran masyarakat. KH. A. Sounhadji, M.A, Ph. D, mengungkapkan, bahwa perguruan tinggi merupakan pusat intelektual dan pusat kebudayaan. Ketiga adalah perguruan tinggi atau kampus merupakan institusi ideologisasi pada masyarakatnya, yang dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang memiliki tiga mata rantai yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Ketiga mata rantai inilah yang terpenting, untuk kemudian bagaimana pihak kampus melakukan internalisasi nilai pada seluruh mahasiswa sehingga timbul satu bentuk manestasi nilai keilmuan yang berpihak pada nilia-nilai etis dan sebagai suatu bentuk artikusiasi yang berjalan secara simultan dalam bentuk gerakan transformasi menuju bangsa yang mandiri dari generasi mudanya (para kaum cendekiawan).
Urgensi Tri Dharma Perguruan Tinggi
Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai dharma bakti dan pilar budaya kampus adalah sebuah nilai yang menjadi World of View mahasiswanya. Nilai ini memilki signifikansi pada mainsteam berfikir mahasiswa dalam proses belajarnya menuntut ilmu di kampus. Selain itu, nilai ini juga akan menentukan habitus mahasiswa sebagai generasi intelektual muda yang akan melanjutkan perjuangan bangsa. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian dari pihak kampus. sebagai sebuah proses penanaman nilai-nilai atas peran perguruan tinggi atau kampus sebagai pusat pembentukan manusia yang berkarakter.
Berangkat dari itu, urgensi Tri Dharma perlu ada sebuah objektifikasi sebagai persemaian agent perubahan pada realitas kehidupan masyarakat, Objektifikasi di sini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Kuntowijoyo, yakni penerjemahan nilai-nilai internal ke dalam kategori-kategori objektif. Disinilah nilai-nilai Tri dharma di manifestasikan ke dalam kehidupan masyarakat, sehingga proses keilmuan yang ada di dalam kampus dapat dirasakan oleh masyarakat yang ada di luar dan tidak sebatas menjadi nilai yang membisu.
Jika nilai Tri Dharma, yang selama ini tidak bisa diinternalisasikan kepada mahasiswa yang notabenenya sebagai kaum cendikiawan, yang memiliki peran sebagai Agent of Change. Maka tidak heran jika kemudian, mahasiswa sebagai basis kekuatan keilmuan dan moralitas akan teralienasi dari masyarakat. Oleh karenanya pembentukan habitus kampus melalui tri dharma perguruan tinggi menjadi penting untuk disandingkan sebagai nilai yang diusung kampus dalam membentuk karakter mahasiswanya dan memainkan perannya dalam kemajuan bangsa.



By: Adm

Kampus Perjuangan, Dari Kampus Mulai Berjuang..


Selasa, 07 Oktober 2014

Mahasiswa Teknik santuni panti asuhan

BANDA ACEH - 150 mahasiswa teknik sipil seluruh Aceh yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia Wilayah Aceh ( FKMTSI wilayah Aceh ) kembali mengelar kegiatan sosial dengan menyantuni salah satu panti asuhan di Aceh Besar, Kamis (3/10).
Kepada AJNN Teuku Sri Muksalmina ketua pelaksana sekaligus koordinator kegiatan menjelaskan mahasiswa yang tergabung dalam forum ini berasal dari 11 institusi perguruan tinggi se Aceh, dan Teknik Sipil Unmuha terpilih menjadi tuan rumah dalam kegiatan regional.
Ia menambahkan, ini salah satu wujud bahwa mahasiswa masih peduli terhadap keadaan sosial dan ini merupakan perwujudan scala kecil pengabdian pada masyarakat yang kelak akan ditambah ketika mahasiswa selesai dalam studi perkuliahannya.
Kegiatan digelar di SOS Children’s Villages gampong Lamreung jalan mesjid dusun Tgk Syech Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar. kegiatan dimulai dengan pengenalan panti dan sosialisasi mahasiswa dan kemudian ditutup dengan pemberian sembako oleh mahasiswa.
http://www.ajnn.net/2014/10/mahasiswa-teknik-santuni-panti-asuhan/
#AJNN.Net

Senin, 06 Oktober 2014

Romansa Engineer di pentas ibukota.

Siapa bilang anak Teknik beraninya cuma di kampus doang? ni lgi ngukir aksi di balai kota Banda Aceh.





Bhakti Sosial Teknokrat Muda, Wujud Kepedulian Terhadap Sesama.

Ini Cara Teknokrat Bhakti Sosial di desa desa yang jauh dari kaca mata pemerintah...